JARAK TERDEKAT ANTARA MANUSIA DENGAN SANG MAHA PEMBERI HIDUP ADALAH "NAFAS"
Rasakan kehadiran Allah melalui nafas dengan hati yang tenang, ikhlas dan penuh khusyu. Rasakan masuknya unsur udara yang akan menghidupi triliunan sel-sel didalam tubuh. Nikmati perlahan dan hayati bertapa manusia sangat bergantung pada nafasnya, pada apa yang masuk kedalam tubuhnya yang berasal dari bumi, air dan alam semesta, hingga akhirnya sel-sel inipun mati dan berganti.
Siklus hidup dan mati terjadi setiap detik dalam tubuh, setiap saat manusia mengalami mati dan hidupnya sel-sel tubuh yang me-regenerasi dengan unsur bumi, air, udara, api dan kehendak ilahiah yang bersenyawa. Kumpulan triliunan sel hidup terhimpun dalam suatu wadah, ia adalah jasad yang berwujud dan ber-nyawa sebagai tanda kebesaran Allah sang maha pencipta lagi maha pemberi kehidupan.
Hanya karena satu sebab inilah kita diwajibkan bersyukur ikhlas dalam keadaan apapun, syukur dengan setulus hati yang disertai rasa bahagia. Maka bahagia bukan sekedar pilihan apalagi pemberian, tapi Kewajiban.
Kiamat Sugra, yaitu kiamat kecil yang berupa rusak atau matinya jasad makhluk hidup akibat ketidakseimbangan unsur alam untuk me-regenerasi sel-sel sebagai syarat keberlangsungan hidup. Kerusakan terjadi akibat rendahnya kesadaran manusia akan ketergantungan dirinya dengan alam semesta, serta akibat akumulasi racun lahiriah, dan racun batiniah yang tidak terkendali.
Jasad yang lahir dan bernyawa Allah tanamkan jiwa atau ruh yang memiliki cahaya kebaikan, cahaya kemurnian fitrah sebagai manusia yang bertuhan yang dapat berfikir, melihat, mendengar, berbicara, dengan panduan rasa. Yang pada akhirnya racun lahiriah dan racun batiniah masuk dan merusak jasad dan jiwa, maka meimbulkan ketidakseimbangan dan ketidakpekaan seorang manusia terhadap rasa dan kesadaran yang penuh atas dirinya.
Ketidakpekaan rasa dan Ketidaksadaran manusia secara kolektif akan keterhubungan dirinya dengan alam semesta menciptakan kerusakan norma moral, akhlak dan etika serta merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Merubah peradaban yang selaras dengan alam menjadi bertentangan dengan alam, sehingga kerusakan manusia dan alam lingkungan seperti menjadi bola salju yang kian lama kian membesar semakin mendekati kiamat alam semesta.
Karenanya, mari kita senantiasa meng-asah kepekaan dan ketajaman rasa dalam jiwa, rasa yang dapat membaca seluruh tanda-tanda kebesaran-Nya, rasa yang dapat membaca kesulitan dan penderitaan orang lain, rasa yang dapat melihat tanda-tanda alam, rasa yang mendengar suara hati kita, sebab rasa adalah bahasa Allah seperti yang tergambar didalam Al-Qur’an.
Jika intisari dari 6.660 lebih ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an diringkas maka tergambar pada surat pertama yaitu Al-Fatihah, kemudian surat Al-Fatihah diringkas lagi menjadi kalimat "Bissmillahirahmanirahim" yang terdapat dua sifat utama Allah yaitu Rohman dan Rohim (Pengasih dan Penyayang pada ayat ke- 1,3), kata sifat Rohman dan Rohim diringkas lagi menjadi satu yaitu “Cinta” atau “Rasa Cinta” sebagai sumber dari sifat Maha Rohman dan Maha Rohim Allah Swt.
وَفِى ٱلْأَرْضِ ءَايَٰتٌ لِّلْمُوقِنِينَ
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin."
وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
"Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
Q.S Az-Zariyat : 20 s/d 21.
Wallahu'alambissawab
- Guntur Hadiyuswara -

Komentar
Posting Komentar